Zionis-Israel harus diseret ke pengadilan HAM Internasional atas kebiadabannya membunuh ratusan warga Gaza hanya dalam waktu dua bulan. Sejak Rabu (27/2) hingga Sabtu (1/3), dalam waktu tiga hari saja tentara-tentara Zionis Israel telah membantai sekurangnya 69 warga sipil Palestina termasuk bayi berusia lima bulan, anak-anak kecil, dan kaum perempuan.
Lembaga HAM Al-Haq yang banyak menyoroti kebiadaban Israel di Tanah Palestina menyatakan Dunia Islam harus sesegera mungkin mengambil langkah-langkah nyata dalam membantu saudara-saudaranya yang kini sedang dalam keadaan sangat tertekan, sangat ketakutan, sangat kelaparan, dan hidup di dalam neraka buatan Zionis.
“Israel jelas merupakan penjajah atas Tanah milik Bangsa Palestina. Setiap orang Palestina berhak memperjuangkan kemerdekaannya dan membebaskan negerinya dari penjajahan. Ini sesuai dengan hukum internasional!” tegas Lembaga HAM Al-Haq dalam rilisnya.
Selain itu, al-Haq juga menyerukan, “Saat saudara-saudara seimannya di Palestina, terutama di Jalur Gaza, sedang dalam neraka buatan musuh-musuh Allah, ke mana wahai kalian kaum Muslimin! Di mana engkau kaum Muslimin! Apakah kalian tidak tergerak sedikitpun untuk membantu saudara-saudara kalian di Gaza. Kondisi rakyat Palestina sudah sedemikian menyedihkan, masihkah kalian sibuk dengan urusan dunia?!”(rizki)
“Sabtu Berdarah” Tewaskan 61 Warga Pelestina, 10 Diantarannya Anak-Anak Minggu, 02 Maret 2008
Korban berjatuhan dari kalangan sipil yang dibantai Zionis-Israel. 61 satu tewas, termasuk anak-anak. Tak ada satupun suara internasional mengecam
Hidayatullah.com—Brutalisme Zionis-Israel dibuktikan dengan melakukan pembantaian berdarah hari Satu (1/3) kemarin. sejak pagi dini hari ini, hingga sore harinya, Israel melancarkan serangan. Lebih dari 61 syahid. Namun sumber lain hanya menyebut 41. Sepuluh diantarannya dari kalangan anak-anak, duabelas syahid dari Brigade Al-Qassam dan ada 120 orang luka-luka.
Sabtu sore ini, (1/3) enam warga Jalur Gaza gugur syahid, dua diantarannya dari Brigade Al-Qassam, sayap militer Hamas yaitu Jalal Abu Halel dan Saed Dabbor. Sementara tujuh lainnya luka-luka dalam serangan udara yang dilancarkan militer Zionis 'Israel' ke wilayah Jabalia, utara Jalur Gaza.
Dua syahid dari kalangan anak-anak, sebelumnya masih samar, sekarang sudah diketahui identitasnya. Mereka adalah Abdurrauf Abdulkarim Audah (16) dan Nael Zaher Abu Aun (17).
Sumber-sumber medis menyebutkan kepada koresponden infopalestina di Gaza bahwa jumlah syahid sebelumnya mencapai 35 orang, diantarannya orang-orang yang satu keluarga, dua anak bersaudara, seorang ayah bersama bayinya dan dua puteri bersaudara.
Sementara korban luka mencapai 120 orang selama aksi pembantaian terbuka pihak militer Zionis 'Israel' sejak dini hari ini, Sabtu (1/3) di Jabalia. Sehingga, total korban syahid sejak Rabu (27/2) menjadi 72 orang dan 250 orang luka-luka.
Saksi mata mengatakan, pembantaian dimulai ketika prajurit Israel datang dengan helikopter yang dilengkapi senjata. Helikopter itu masuk Gaza lewat kawasan utara. Pejabat Palestina memaparkan bahwa pasukan Israel menuju Kota Beit Hanoun dan Jabalya. Dua kota tersebut merupakan titik paling krusial beberapa bulan terakhir.
Di lokasi itu, prajurit pemerintahan Perdana Menteri (PM) Ehud Olmert tersebut bertemu gerilyawan Hamas yang membawa senjata. Aksi baku tembak pun tak terhindarkan. "Dalam operasi militer itu, lima prajurit kami terluka," klaim militer Israel.
Juru bicara militer Israel menyatakan, sekitar 20 roket telah diledakkan di wilayah Gaza pada Sabtu (1/3). Termasuk, tiga roket rudal Grad rancangan Uni Soviet. Roket tersebut memiliki kekuatan dan keakuratan jarak serang yang lebih daripada roket Qassams milik Palestina.
Serangan terakhir Israel itu disesalkan Presiden Palestina Mahmoud Abbas. Politikus yang masih "berperang" melawan Hamas tersebut mengatakan, ancaman Israel dan persiapan yang dilakukan mereka untuk menyerang Gaza sangat berbahaya. "Hal itu sangat disayangkan. Apa yang terjadi lebih dari suatu holocaust," katanya mengutip pernyataan Matan Vilnai, deputi menteri pertahanan Israel. Pada Jumat (29/2), Vilnai menandaskan kemungkinan terjadinya holocaust yang besar di Gaza.
"Kami meminta dunia melihat dengan mata sendiri dan menjadi hakim atas apa yang sudah terjadi. Siapa sebenarnya aktor teroris internasional," tegas Abbas kepada reporter di Ramallah, Palestina.
Abbas juga mengkritik pernyataan Vilnai yang mengatakan bahwa serangan roket yang dilakukan Israel ke Gaza "hanya" pertahanan diri. Hazem Abu Shanab, anggota senior fraksi Fatah Abbas di Gaza, menyebut serangan Israel sebagai pembunuhan masal yang melawan seluruh rakyat Palestina.
"Sayang, ada ’kebisuan’ internasional dari pembunuhan masal tersebut. Termasuk, dari rekan-rekan Arab kami," tuturnya. [cha, berbagai sumber/www.hidayatullah.com]