Blog EntryGerakan Islam Dinilai Pembangkit Nasionalisme May 22, '08 9:14 PM
for everyone
JAKARTA -- Islam, dalam catatan sejarah, merupakan pembangkit nasionalisme di Indonesia. Atas dasar ini, Dialog Peradaban yang digelar Center for Information and Development Studies (Cides) pimpinan Syahganda Nainggolan, mempersoalkan kembali gerakan Boedi Oetomo sebagai patokan Kebangkitan Nasional.

Dalam dialog tersebut diungkapkan bahwa Sarekat Islam (SI)--peralihan dari Sarekat Dagang Islam--lebih tepat menjadi tolok ukur Kebangkitan Nasional. ''Perlu pelurusan sejarah, dengan kajian akademis yang objektif, mengenai peran Sarekat Dagang Islam,'' kata Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Indonesia, Ahmad Suhelmi, sebagai salah satu pembicara, di Jakarta, Kamis (22/5).

Mengutip George Mc Turner Kahin, menurut Suhelmi, Islam telah menjadikan nasionalisme Indonesia menjadi unik jika dibandingkan dengan nasionalisme di belahan dunia lain. Islam pula yang menjadi simbol perlawanan pribumi terhadap kolonialisme Belanda.

Sementara itu, Boedi Oetomo, kata Suhelmi, adalah organisasi yang lebih menunjukkan sifatnya yang 'Jawa sentris' daripada watak nasionalistik. Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia, Ismail Yusanto, mengutip tesis Savitri Scherer, menggambarkan bahwa Boedi Oetomo adalah gerakan sosial yang mengartikulasikan kepentingan kelompok priyayi nonbirokrat lokal. Pemicunya adalah disharmoni antara priyayi nonbirokrat--didominasi dokter--dan priyayi birokrat.

Karena itu, kemunculan Boedi Oetomo sebenarnya lebih didorong oleh keinginan 'menolong diri sendiri' para dokter Jawa itu yang merasa berada lebih rendah dibanding priyayi birokrat. ''(Dengan) gambaran ini, sulit (Boedi Oetomo) dianggap sebagai perintis Kebangkitan Nasional,'' kata Ismail.

Memang, kata dia, ada keinginan dari sebagian tokoh Boedi Oetomo untuk memperluas perjuangan, tak hanya untuk priyayi Jawa. Kalangan ini kebanyakan merupakan tokoh muda kala itu, misalnya Soewarno yang mengusulkan perbaikan pendidikan untuk seluruh Hindia Belanda, tapi tak digubris.

Bahkan, Wahidin Sudirohusodo dalam pidatonya saat membuka kongres organisasi ini pada Oktober 1908, kata Ismail, sangat mengagungkan sejarah Jawa dan menekankan pentingnya pendidikan Barat bagi kemajuan Jawa. Hal itu khususnya ditujukan bagi kaum priyayi, bukan untuk rakyat desa kebanyakan. Anggaran dasar organisasi Boedi Oetomo pun secara tegas dalam pasal 2 menyatakan perjuangan mereka hanya ditujukan bagi orang Jawa dan Madura.

Berbeda dengan Boedi Oetomo, papar Ismail, SI lebih menasional dengan menerima keanggotaan dari semua kalangan. Tergambar dari tokohnya, yang berasal dari beragam suku bangsa. Misalnya, ada Abdoel Moeis dari Sumatra Barat dan AM Sangaji dari Maluku.

Pada 1916, tercatat 181 cabang SI di seluruh Indonesia dengan tak kurang dari 700 ribu anggota. Angka ini melonjak menjadi dua juta orang pada 1919. Sedangkan Boedi Oetomo, kata Ismail, pada masa keemasannya hanya memiliki anggota 10 ribu orang.



















Sumber: www.republika.co.id , 23 Mei 2008


suprichusnul wrote on May 22
matur suwun sampun sharing info nipun kang....mugi mugi sageto migunani dan saget mbika sejarah wonten buni nusantoro puniko, amin
kelola wrote on May 22
Mengapa Syarikat Islam (SI) yang lahir terlebih dahulu dari Boedhi Oetomo (BO), yakni tahun 1905, yang nasionalis, menentang penjajah Belanda, dan mencita-citakan Indonesia merdeka, tidak dijadikan tonggak kebangkitan nasional ?
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design - Copyright © 2005 sonnenvogel.com All rights reserved.